
Dalam
ungkapan seorang penulis perancis, ideologi adalah sebuah kata ajaib yang
menciptakan pemikiran dan semangat hidup diantara manusia terutama diantara kaum
muda, dan khususnya diantara para cendikiawan atau intelektual dalam masyaraka.
Menurut bapak ideologi, Destutt de Tracy Ideologi adalah studi terhadap ide ide atau pemikiran
tertentu.sedekit bersinggungan dengan Karl
Marx Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan
bersama dalam masyarakat. Akan tetapi lain halnya dengan Taqiyuddin An-Nabhani, Mabda’ adalah suatu aqidah aqliyah yang
melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh
tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum
dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan
sesudah alam kehidupan di dunia ini. Atau Mabda’ adalah suatu ide dasar yang
menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian
yaitu, fikrah dan thariqah.
Ideologi, secara etimologis berasal dari kata idea (ide, gagasan) dan ology
(logos=ilmu). Dalam rumusan De Tracy, ideologi diharapkan menjadi cabang
ilmu pengetahuan yang bertujuan mengkaji serta menemukan hukum-hukum yang melandasi
pembentukan serta perkembangan ide-ide dalam masyarakat, sehingga ide-ide
tersebut dapat dijelaskan secara rasional.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Ideologi(mabda’) adalah
pemikiran yang mencakup konsepsi mendasar tentang kehidupan dan memiliki metode
untuk merasionalisasikan pemikiran tersebut berupa fakta, metode menjaga
pemikiran tersebut agar tidak menjadi absurd dari pemikiran-pemikiran yang lain
dan metode untuk menyebarkannya.
Sehingga dalam Konteks definisi ideologi inilah tanpa memandang sumber
dari konsepsi Ideologi, maka Islam adalah agama yang mempunyai kualifikasi
sebagai Ideologi dengan padanan dari arti kata Mabda’ dalam konteks bahasa
arab.
Apabila kita telusuri seluruh dunia ini, maka yang kita dapati hanya ada
tiga ideologi (mabda’). Yaitu Kapitalisme, Sosialisme termasuk Komunisme, dan
Islam. Untuk saat ini dua mabda pertama, masing-masing diemban oleh satu atau
beberapa negara. Sedangkan mabda yang ketiga yaitu Islam, saat ini tidak
diemban oleh satu negarapun, melainkan diemban oleh individu-individu dalam
masyarakat. Sekalipun demikian, mabda ini tetap ada di seluruh penjuru dunia.
Sumber konsepsi ideologi kapitalisme dan Sosialisme berasal dari buatan
akal manusia, sedangkan Islam berasal dari wahyu Allah SWT (hukum syara’).
Ibnu Sina mengemukakan masalah tentang ideologi dalam Kitab-nya "Najat",
dia berkata:
"Nabi dan penjelas hukum Tuhan serta ideologi jauh lebih dibutuhkan
bagi kesinambungan ras manusia, dan bagi pencapaian manusia akan kesempurnaan
eksistensi manusiawinya, ketimbang tumbuhnya alis mata, lekuk tapak kakinya,
atau hal-hal lain seperti itu, yang paling banter bermanfaat bagi kesinambungan
ras manusia, namun tidak perlu sekali."
Pada tanggal 28 Oktober bangsa ini melalui para pemuda telah merintis
sebuah kesatuan tekad baru bangsa Indonesia. Tekad akan pentingnya
nasionlalisme yang berhasil melahirkan tali persatuan di seantaro Indonesia. Ke-bhineka-an bukan dijadikan sekat untuk bergerak
bersama menuntut perubahan maka diperlunya ke-ika-an di antara kita. Satu nusa,
satu bangsa dan satu bahasa yang merupakan nilai-nilai yang diusung ini
melahirkan semangat baru pergerakan rakyat Indonesia. Pergerakan yang
melahirkan suatu perubahan linier ke arah modern. Para pemudalah yang mampu
melahirkan ini semua.
Pembicaraan tentang mahasiswa dan gerakannya sudah
lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir semua kalangan
masyarakat. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah
menghasilkan pula berbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan
tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan
politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks kepeduliannya dalam
merespon masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah
masyarakat. Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah
absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa.
Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan,
pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah
terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa sebagai perpanjangan aspirasi rakyat
dalam situasi yang demikian itu memang sangat dibutuhkan sebagai upaya
pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang
terjadi pada penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan
pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik
yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu,
motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas
kepeduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat
lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.
Para pemuda yang hakikatnya merupakan pikiran
dinamis yang selalu bergerak menuntut kita untuk selalu memiliki posisi dan
peran aktif dalam perjalanan bangsa ini. Kepekaan sosial yang dimiliki menuntut
pemuda untuk selalu dapat memberi untuk lingkungan, melaksanakan tanggung
jawabnya sebagai agen perubahan. Kepekaan sosial ini lahir karena ideologi yang
menyadarkan akan peran pemuda. Ketika tahun 1928 para pemuda Indonesia berhasil
melahirkan suatu gagasan penting karena dilandasi oleh ideologi akan pentingnya
nasionalisme maka sekarang ini pentingnya ideologi justru semakin luntur di
kalangan pemuda Indonesia. Ideologilah yang menjadi landasan berpijak dan
pembentuk mindset seorang karena ia meyakini kebenaran dari
substansi ideologinya.
Ketika dulu Soekarno mampu menggetarkan panggung
dunia melalui pemikiran dan pidatonya karena dilandasi ideologi yang telah
tertanam kuat. Begitu juga ketika mahasiswa berhasil melengserkan Orde Baru
karena dilandasi ideologi perjuangan revolusionernya. Akan tetapi sekarang yang
mungkin dikarenakan kehidupan cenderung mengarah hedonis serta pragmatis
menyebabkan para pemuda kehilangan ideologinya. Terjebak dalam kesenangan
individual yang semu sehingga kepekaan sosial menjadi luntur. Ideologi seakan
dianggap hal yang sudah tidak penting dan disadari karena terkikis oleh waktu.
Pemuda dan ideologi merupkan kesatuan yang harus
dimiliki jika ingin bangsa ini maju. Lunturnya ideologi yang disebabkan gaya
hidup menuntut perlu kembalinya kita merujuk akan pendidikan yang dijalani.
Ideologi pada dasarnya terbentuk melalui proses belajar yang komprehensif dan
kontinu. Pendidikan yang selalu didasarkan pada tri dharmanya yaitu penagjaran,
penelitian dan pengabdian masyarakat merujuk mampu membentuk pemuda Indonesia
yang paripurna. Akan tetapi jika pendidikan juga telah dicekcoki oleh hedonis,
pragmatis bahkan cabang-cabang kapitalis akan sia-sia belaka. Pendidikan harus
mampu menjadi media pembentukan pemuda Indonesia yang intelek sesuai dengan
karakter bangsa dan pemuda juga harus selalu memaksimalkan proses pendidikan
baik itu di keluaraga, sekolah, kampus, ataupun lingkungannya di mana akan
dapat melahirkan gagasan baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan bangsa.
Pemuda, ideologi dan pendidikan merupakan suatu
sistem yang fungsional. Ideologi yang akan mampu menyadarkan peran pemuda
setelah sebelumnya ideologi dibentuk melalui pendidikan. Dan pendidikan harus
mampu menganalisis dan mengalternatifkan ideologi yang sesuai dengan karakter
bangsa ini. Sekarang saatnya kita pemuda untuk kembali mengambil peran dan
posisi kita yang telah lama ditinggalkan sebagai agen perubahan melalui
perjuangan yang dilandasi ideologi. Persatuan merupakan modal perjuangan kita.
Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat jiwa
patriotik yang dapat membius semangat juang lebih radikal. Mereka sedikit pun
takkan ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Berbagai
senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam
melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka
dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti petisi, unjuk rasa,
boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata
yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa jika dibandingkan dengan
intelektual profesional, lebih punya keahlian dan efektif.
Kedekatannya dengan rakyat terutama diperoleh lewat
dukungan terhadap tuntutan maupun selebaran-selebaran yang disebarluaskan
dianggap murni pro-rakyat tanpa adanya kepentingan-kepentingan lain
mengiringinya. Adanya kedekatan dengan rakyat dan juga kekuatan massif mereka
menyebabkan gerakan mahasiswa bisa bergerak cepat berkat adanya jaringan
komunikasi antar mereka yang aktif layaknya bola salju, semakin lama semakin
besar. Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang
dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan politik
pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian
peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Juan Peron di Argentina tahun
1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966,
Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo
Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan
Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi, walaupun sebagian besar
peristiwa penggulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa
sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun, gerakan mahasiswa lewat
aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis telah terbukti menjadi
katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang
kekuasaan tirani untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik.
Ideologi ISLAM, abadi dan dinamis
"Dan kami tidak mengutusmu kecuali untuk
seluruh manusia sebagai pemberi harapan dan ancaman". [QS. Al-Anbiya’
(21): 107]
Islam adalah agama masyarakat dunia. Ia tidak
diperuntukkan kepada bangsa manusia tertentu. Ia tidak terbatas pada satu
kawasan bumi. Ia diturunkan hanya untuk seluruh umat manusia, di seluruh
pelosok dunia. "Ia tidak lain hanyalah dzikr (peringatan) bagi semua
alam".[QS. Shaad (37): 87] Islam adalah agama terakhir untuk umat manusia.
Mereka tidak akan lagi menerima misi dari langit selain misi Islam, sampai
dunia ini menemui hari kehancurannya. Maka itu, nabi Islam adalah khotamul
anbiya, nabi terakhir yang diutus Allah swt. "Sesungguhnya Muhammad
bukanlah ayah seorangpun dari kalian, tetapi dia adalah rosul Allah dan nabi
terakhir".[QS. Al-Ahzab (33): 40]
Islam adalah agama yang peduli pada manusia dengan
segenap kapasitasnya; sebagai raga ataupun ruh, sebagai individu, kepala
keluarga, ataupun anggota masyarakat, sebagai pengusaha yang mempertahankan dan
mencukupi hidupnya, ataupun budak yang tulus pada Tuhannya, sebagai penegak
perdamaian di antara sesamanya ataupun pengobar api peperangan. Islam adalah
agama yang mengatur dan menata semua aspek kehidupan.Islam dan Realitas Kehidupan
Dalam pada itu, disepakati atau tidak bahwa
kehidupan manusia sendiri tidak statis, tidak jumud, tetapi bergerak dan
berubah-ubah. Pergerakan dan perubahan ini mencakup seluruh sisi dzahir
kehidupan manusia, sisi-sisi fisikal dan hubungan interaktif antarmanusia,
serta dialog antarpikiran mereka. Sesungguhnya pergerakan dan perubahan itu
pula yang mengantarkan makhluk-makhluk hidup dan aspek-aspek dzahir kehidupan
mereka kepada kemajuan pada suatu saat, dan kepada kemunduran pada saat lain.
Dengan demikian, kalau benar Islam ini agama global
yang memperdulikan kehidupan manusia dengan segenap aspeknya, tentunya ia harus
menunjukkan sikap yang jelas dan tegas terhadap setiap perubahan yang mengarah
pada kemajuan ataupun pada kemunduran. Jadi, permasalahanya
cukup jelas, apakah sikap Islam?
Sekali lagi, Islam adalah agama terakhir umat manusia. Maka, ia abadi
selama ada manusia yang tersisa di muka bumi ini. Kendati demikian, keabadian Islam
tidak berarti bahwa agama ini selalunya mengambil sikap pasif atau negatif
terhadap setiap perubahan yang terjadi pada umat manusia dan aspek-aspek
kehidupannya. Islam bahkan
berperan aktif dan positif di dalam semua itu. Islam akan menampung dan mengembangkan
sekup dan skalanya jika perubahan itu benar-benar membantu manusia dan hidupnya
untuk kemajuan dan pencerahannya. Begitu pula, Islam akan menolak dan melawan
segala arus perubahan yang benar-benar memisahkan manusia dari tujuan-tujuan
luhur yang dikehendaki oleh Allah swt untuknya.
Maka, Islam tidak membekukan kehidupan manusia dari
segala bentuk, jalur, dan caranya, selama tidak melampaui batas-batas tertentu.
Bahkan, ia memberikan kesempatan luas kepada manusia untuk melangsungkan
pengembangan, pembangunan dan kemajuan.
Dengan demikian, Islam ialah agama sepanjang jaman
dan dinamis; Ia abadi dan utuh dalam prinsip-prinsip dan hukum-hukumnya yang
terkandung di dalam Al-Qur'an dan hadis yang otentik, ia dinamis dalam
hukum-hukum tsanawiyyah (sekunder), yaitu hukum agama yang di dalamnya otoritas
hukum (musyarri') tidak menetapkan atas kita bentuk dan modus tertentu, juga
(dinamis) dalam subjek-subjek yang mempunyai hukum umum yang mencakup segala
macam bentuk suatu kasus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar